Rabu, 19 November 2014

PENGARUH TIPE PERILAKU TERHADAP
PENYAKIT JANTUNG KORONER

Tugas Pengganti Kuliah Psikologi kesehatan


 



Oleh :
Uswatun Khasanah
G1B013001
Setyaningrum Adi Kusuma
G1B013041
Kinanthi Wirama Sekarshashi
G1B013073
Fani Nuraini
G1B013077


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2014


Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit yang menyerang pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung (arteri koronaria) yang mengakibatkan terjadinya penyumbatan sebagian atau total dari satu atau lebih pembuluh darah arteri koroner. Sampai saat ini penyebab pasti penyakit jantung koroner belum diketahui, dimungkinkan merupakan interaksi dari  penyebab multifaktorial yang berhubungan dengan kenaikan risiko untuk terjadinya suatu penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan tingginya kejadian morbiditas, mortalitas, disabilitas dan penurunan produktifitas (Supriyono, 2008).
Pada saat ini penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Pada tahun 2005 sedikitnya 17,5 juta atau setara dengan 30,0 % kematian diseluruh dunia disebabkan oleh penyakit jantung. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 60 % dari seluruh penyebab kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung koroner (Supriyono, 2008).
Penyebab penyakit jantung koroner memiliki berbagai faktor yang berperan penting terhadap timbulnya penyakit jantung koroner, disebut sebagai faktor risiko PJK. Faktor risiko PJK terdiri atas faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat dikendalikan (nonmodifiable risk factors) terdiri atas keturunan; umur, makin tua risiko makin besar; jenis kelamin, pria mempunyai risiko lebih tinggi dari pada wanita (wanita risikonya meningkat sesudah menopouse). Sedangkan faktor yang dapat dikendalikan (modifiable risk factors) terdiri atas dyslipidaemia, tekanan darah tinggi (hipertensi), merokok, penyakit Diabates Mellitus, stress, kelebihan berat badan dan obesitas (Supriyono, 2008).

Stres, baik fisik maupun mental merupakan faktor risiko untuk PJK. Pada masa sekarang, lingkungan kerja telah menjadi penyebab utama stress dan terdapat hubungan yang saling berkaitan antara stress dan abnormalitas metabolisme lipid. Disamping itu, stres merangsang sistem kardiovaskuler dengan dilepasnya catecholamine yang meningkatkan kecepatan denyut jantung dan menimbulkan vasokonstriksi. Beberapa ilmuwan mempercayai bahwa stress menghasilkan suatu percepatan dari proses atherosklerosis pada arteri koroner (Supriyono, 2008).
Stres terus menerus bisa mempengaruhi perilaku orang. Beberapa penelitian menunjukan adanya hubungan antara tipe perilaku dengan risiko peningkatan penyakit jantung. Frieldman (1969) mengenalkan 2 tipe perilaku, yaitu perilaku tipe A dan B.
Menurut Friedman dan Jenkins (dalam Kaplan dan Stamler, 1991), orang dengan pola perilaku tipe A mempunyai gaya aktivitas kehidupan yang ditandai oleh hal berikut: kompetisi, usaha keras untuk mencapai tujuan tertentu, kemarahan yang mudah dibangkitkan, perasaan ketergesaan untuk menyelesaikan sesuatu dengan cepat, selalu tepat pada waktunya, tidak sabar, sikap dan berbicara mendadak dan gerak isyarat yang cepat serta konsentrasi terhadap tujuan yang dipilih sendiri sampai hal yang tidak diterimakan, dan mengikuti beberapa aspek lingkungan lainnya, yang mencakup komunikasi dari lainnya. Orang yang mempunyai gaya perilaku lawannya, yang rileks, tidak tergesa-gesa, tidak mudah dirangsang, serta mempunyai pola berbicara dan gerak isyarat dirubah menjadi lebih tenang, didefinisikan sebagai tipe B.
Walaupun orang tipe A menjalankan perjuangan terus menerus untuk mengatasi hambatan dalam lingkungannya, namun mereka tidak perlu mempunyai kecenderungan lebih besar untuk merasa cemas atau depresi daripada tipe B. Pola tipe A tidak dilihat sebagai kesimpulan psikodinamik, tipe A merupakan gaya perilaku yang dapat diamati, tempat seseorang yang dipresdisposisi secara psikologis bereaksi tehadap keadaan yang menantangnya (Kaplan dan Stamler, 1991).
Menurut Ratnaningtyas (2011), stress psikologis sebagai pemicu terjadinya berbagai kelainan kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner sering dikaitkan dengan perilaku tipe A. Dua penelitian prospektif telah memperlihatkan bahwa perilaku tipe A mendahului penyakit jantung koroner, bahwa efeknya bebas dari faktor risiko penyerta, dan bahwa risiko sebanding dengan derajat perilaku tipe A yang diperlihatkan (Kaplan dan Stamler, 1991).
Prevalensi pola perilaku tipe A bervariasi sesuai kelompok budaya, pekerjaan, dan pendidikan. Pekerjaan yang melibatkan tingkat kebanggaan lebih tinggi cenderung memiliki proporsi orang tipe A yang lebih tinggi. Orang dengan pendidikan lebih tinggi, lebih sering tipe A daripada yang pendidikannya rendah (Kaplan dan Stamler, 1991).
Derajat peningkatan risiko terhadap penyakit jantung koroner yang dibawa oleh adanya pola perilaku tipe A telah diteliti pada sejumlah keadan. Framingham Heart Study menunjukan hal sebagai berikut:
·             Pria berusia 45-54 tahun dengan tipe A mempunyai prevalensi penyakit jantung koroner 1,6 kali lipat dibandingkan dengan pria tipe B, sedangkan pria yang berusia lebih tua dengan tipe A memiliki prevalensi 1,1 kali lipat dibandingkan dengan pria tipe B.
·            Diantara wanita, hubungan tipe A dengan penyakit jantung koroner lebih kuat. Wanita berusia 45-54 tahun dengan tipe A mempunyai prevalensi penyakit jantung koroner 8 kali lipat dibandingkan dengan wanita tipe B, sedangkan wanita yang berusia 65-74 tahun dengan tipe A memiliki memiliki prevalensi 2 kali lipat dibandingkan dengan wanita tipe B.
·               Pria pekerja kantor berumur 45-75 tahun dengan tipe A mempunyai indeks PJK 2,9 kali tipe B, tetapi di dalam pria pekerja kasar rasionya hanya 1,4:1 pada pria usia sebelum pensiun dan kurang dari 1 (hanya 0,7) pada pria pekerja kasar berumur 65 tahun atau lebih.
·              Bagi wanita, rasio risiko relatif 2,5 terhadap 1 pada wanita lebih muda dan 1,9 terhadap 1 pada wanita lebih tua, dengan perbedaan dasar yang sama dalam rasio risiko relatif yang diperlihatkan sama bagi ibu rumah tangga dan wanita pekerja.
(Haynes dkk, 1980 dalam Kaplan dan Stamler, 1991).

Dalam penelitian Framingham, sejumlah faktor psikososial didapatkan berhubungan dengan penyakit jantung koroner. Pada penelitian tersebut, didapatkan bahwa pria tipe A memiliki risiko penyakit jantung koroner lebih tinggi dibandingkan dengan tipe B. Penemuan pada pria tersebut juga memperlihatkan risiko serupa pada wanita tipe A.Wanita pekerja lebih mungkin daripada ibu rumah tangga melaporkan memiliki perilaku tipe A, ketidakcocokan perkawinan, mobilitas pekerjaan, stress sehari-hari, atau ketidakpuasan perkawinan. Walaupun pekerjaan itu sendiri tidak berhubungan dengan penyakit jantung koroner pada wanita, namun lingkungan kerja (pimpinan yang tidak membantu, penurunan mobilitas pekerjaan) dan kepribadian (kemarahan terpendam) serta tekanan ekonomi tampak merupakan penentu vulnerebilitas terhadap penyakit jantung koroner (Kaplan dan Stamler, 1991).
         
          Beberapa program intervensi kecil telah memperlihatkan bahwa mungkin merubah pola perilaku tipe A pada dewasa yang termotivasi baik bisa diikuti oleh penurunan faktor lain seperti kolesterol serum dan tekanan darah sistolik. Tapi, masih belum ditetapkan apakah usaha untuk mengurangi intensitas pola tipe A akan menghasilkan perubahan perilaku jangka panjang atau penurunan terus-menerus pada tekanan darah kolesterol (Kaplan dan Stamler, 1991).
Salah satu hambatan utama untuk merubah perilaku tipe A adalah dalam masyarakat pola ini sering dihadiahi pujian, kenaikan pangkat, dan peningkatan penghasilan. Gangguan pola tipe A juga membangkitkan ansietas dan kemarahan. Karena itu kembali lagi berperilaku seperti tipe A. Kebanyakan orang dengan perilaku tipe A tidak mempunyai motivasi untuk tetap terlibat dalam program yang mencari jalan perubahan perilaku. Banyak orang tipe A menggunakan berbgai mekanisme psikologi, khususnya isolasi dan denial untuk mengurangi luas pola tipe A menyerang kehidupannya dan risiko penyakit jantung koroner yang mungkin dibawa pola tipe A (Kaplan dan Stamler, 1991).
Tampaknya tepat menggunakan adanya pola tipe A sebagai petunjuk bahwa harus ada intervensi lebih giat terhadap faktor risiko lain yang ada bersamaan pada perorangan yang mungkin lebih mudah diturunkan, seperti merokok atau tekanan darah tinggi. Intervensi langsung untuk menurunkan pola tipe A, bila berhasil mungkin akan menyebabkan kenikmatan hidup lebih besar (Kaplan dan Stamler, 1991).

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa aktivitas perilaku yang bersemangat seperti yang ditunjukan pada orang dengan tipe A memberikan risiko penyakit jantung koroner yang sebanding dengan faktor risiko standar lainnya. Untuk mencegah terjadinya penyakit jantung koroner, saran kami adalah masyarakat diharapkan berperilaku hidup sehat dengan tidak merokok, olah raga secara teratur, makan makanan yang sehat dan konsumsi kolesterol yang berimbang. Kaitannya dengan tipe perilaku, masyarakat hendaknya dapat merespon stress secara positif.
                            




DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, Norman M. dan Jeremiah Stemler. 1991. Pencegahan Penyakit Jantung Koroner, diterjemahkan Sukwan Handali. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
 Supriyono, Mamat. 2008. “Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Kelompok Usia < 45 Tahun”, Tesis. Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro Semarang.
 Ratnaningtyas, Yosefin. 2011. “Hubungan Kepribadian Tipe D Dengan Kejadian Hipertensi Di Rsud Prof. Dr. Margono Soekardjo”, Mandala of Health. Volume 5, Nomor 2.




0 komentar:

Posting Komentar