Jumat, 14 November 2014

MANFAAT SENAM UNTUK LANSIA YANG HIPERTENSI

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Olahraga





 Oleh :
Try Mulia Rahmawati (G1B013023)
Setyaningrum Adi Kusuma (G1B013041)
Gustiani Sinta Dewi (G1B013063)


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.            Latar Belakang Masalah
Lansia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Jumlah lansia meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2% dari seluruh penduduk dengan usia harapan hidup 64,05 tahun. Tahun 2006 usia harapan hidup meningkat menjadi 66,2 tahun dan jumlah lansia menjadi 19 juta orang, dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 jutaorang atau 11,4%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah lansia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu.
Semakin tingginya usia harapan hidup, maka semakin tinggi pula faktor resiko terjadinya berbagai masalah kesehatan. Masalah umum yang dialami para lansia adalah rentannya kondisi fisik para lansia terhadap berbagai penyakit karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar serta menurunnya efisiensi mekanisme homeostatis, oleh karena hal tersebut lansia mudah terserang berbagai penyakit.
 Menurut Jubaidi (2008) ada beberapa perubahan fisik pada lansia yang dapat menjadi suatu kondisi lansia terserang penyakit, seperti perubahan kardiovaskuler. Terdapat beberapa macam penyakit yang biasa menimpa para lansia antara lain hipertensi, diabetes mellitus, jatung koroner, stroke, katarak, dan lain sebagainya. Macam-macam masalah kesehatan tersebut yang sering menimpa lansia yaitu hipertensi yang bisa menjadi awitan dari berbagai masalah kardiovaskuler lainnya yang lebih gawat.
Prevalensi kejadian hipertensi sangat tinggi pada lansia, yaitu 60%-80% pada usia diatas 65 tahun. Tidak sedikit orang yang menganggap penyakit hipertensi pada lansia adalah hal biasa. Sehingga mayoritas masyarakat menganggap remeh penyakit ini. Hipertensi dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain gagal jantung dan stroke (Muhammad, 2010).
Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa latihan dan olah raga pada usia lanjut dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional, bahkan latihan yang teratur dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas yang diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler. Penelitian yang telah dilakukan di Jepang memberikan salah satu bukti bahwa olahraga yang teratur sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah (Williams & Wilkins, 2001). Salah satu olahraga yang mudah dilakukan adalah senam.

B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut “Apa hubungan senam dengan tekanan darah pada lansia”

C.            Tujuan
Tujuan makalah ini adalah:
1.             Untuk mengetahui konsep tentang lansia;
2.             Untuk mengetahui konsep tentang tekanan darah;
3.             Untuk mengetahui konsep tentang hipertensi;
4.             Untuk mengetahui konsep tentang senam;
5.             Untuk mengetahui  hubungan senam bagi lansia yang hipertensi.

D.            Manfaat
Adapun manfaat penyusunan makalah ini adalah:
1.             Pembaca dapat mengetahui konsep tentang lansia;
2.             Pembaca dapat mengetahui konsep tentang tekanan darah;
3.             Pembaca dapat mengetahui konsep tentang hipertensi;
4.             Pembaca dapat mengetahui konsep tentang senam;
5.             Pembaca dapat mengetahui hubungan senam bagi lansia yang hipertensi.

E.             Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan metode studi pustaka. Penyusunan dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan manfaat senam untuk lansia yang hipertensi. Pengumpulan dilakukan dari sumber  internet kemudian dipilih dan dilakukan perubahan seperlunya.


BAB II
ISI

A.            KONSEP DASAR LANSIA
1.              Pengertian Lansia
Lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang dimulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana diketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan mengalami penurunan tugas dan fungsi ini dan memasuki tahap lanjut, kemudian meninggal.
Pengertian Lansia menurut UU No. 4 tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lian (Wahyudi,2000). Sedangkan menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang kesejahteraan Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depos,1999).
Pada Lansia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap suatu penyakit (Constantinides,1994).
Secara biologis, penduduk Lansia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, dan sistem organ.
Secara ekonomi, penduduk Lansia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negative sebagai beban keluarga dan masyarakat.
Dari aspek sosial, penduduk Lansia merupakan satu kelompok sosial sendiri. Di Negara barat, penduduk Lansia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputusan serta luasnya hubungan sosial yang semakin menurun. Akan tetapi, di Indonesia penduduk Lansia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda.

2.             Klasifikasi Lansia
Menurut WHO, Lansia di golongkan menjadi 4, yaitu :
1)             Usia pertengahan 45-59 tahun
2)             Lanjut Usia 60-74 tahun
3)             Lanjut Usia Tua 75-90 tahun
4)             Lansia sangat tua >90 tahun

3.             Perubahan Fisik Lansia

Ada perubahan yang terjadi pada fisik yang dialami oleh lansia akibat proses menua. Menurut Nugroho (2008) adalah sebagai berikut:
1)            Perubahan fisik dan fungsi
Penurunan fisik dan fungsi pada lansia berkaitan dengan penurunan fungsi sel, sistem syaraf,sistem pendengaran, sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem pengaturan suhu tubuh, sistem pernafasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem endokrin, dll.
2)            Perubahan mental
Terjadi perubahan yang dapat berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit bila memiliki sesuatu. Sikap yang semakin umum ditemukan pada lansia adalah mengharapkan tetapi diberi peran dalam masyarakat, ingin mempertahankan hak dan hartanya, serta ingin tetap berwibawa. Faktor yang mempengaruhi perubahan mental pada lansia diantaranya :
- Perubahan anatomi
- Perubahan fisiologi
- Kesehatan umum
- Tingkat pendidikan
- Keturunan
- Lingkungan
Perubahan mental pada lansia juga terjadi pada ketenangan dan juga Intelegensi Quotion (IQ).

3)            Perubahan Psikososial
Nilai seseorang sering diukur dari produktivitasnya dan identitasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Lansia yang mengalami kehilangan antara lain :
- Kehilangan fungsional
- Pada umumnya setelah seseorang memasuki Lansia maka ia akan mengalami  penurunan fungsi kognitif meliputi belajar, persepsi, pengertian, pemahaman,dll. Sehingga dapat mengakibatkan reaksi dan perilaku lansia menjadi lambat.

Sementara fungsi psikomotor meliputi hal-hal yang
  berhubungan dengan gerak.
- Kehilangan yang berkaitan dengan pekerjaan. Perubahan dapat diawali dengan masa pension. Meskipun tujuan ideal pension adalah agar para lansia menikmati hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebagai  kehilangan penghasilan, jabatan, peran, kegiatan, dll.
- Perubahan dalam peran sosial di masyarakat. Berkurangnya fungsi indera, gerak fisik, dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional pada lansia.
Tindakan untuk mengurangi fungsional pada lansia sebaiknya di cegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang  bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa dipisahkan.


B.            KONSEP TEKANAN DARAH

1.              Definisi Tekanan Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan sistolik adalah tekanan darah pada saat terjadi kontraksi otot jantung. Istilah ini secara khusus digunakan untuk meujuk pada tekanan arterial maksimum saat terjadi kontraksi arterial maksimum saat terjadi kontraksi pada lobus ventricular kiri dari jantung. Rentang waktu terjadi kontraksi disebut systole. Tekanan diastole adalah tekanan darah pada saat jantung tidak sedang berkontraksi atau beristirahat. Pada kurva denyut jantung tekanan diastole adalah tekanan darah yang digambarkan pada rentang diantara grafik denyut jantung. Tekanan darah adalah tekanan yang dihasilkan oleh darah dari sistem sirkulasi atau sistem vaskuler terhadap dinding pembuluh darah (James,2008).
Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik. Sebagai contoh, tekanan darah pada angka 120/80 menunjukan tekanan systole pada nilai 120 mmHg, dan tekanan diastole pada nilai 80 mmHg. Nilai tekanan darah pada orang dewasa pada normalnya berkisar antara 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 (Smeltzer & Bare, 2001).
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Tekanan darah dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi.
Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pada metode langsung, kateter arteri dimasukan kedalam arteri. Walaupun hasilnya sangat tepat, akan tetapi metode pengukuran ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan lain (Smeltzer & Bare, 2001). Bahaya yang dapat ditimbulkan saat pemasangan kateter arteri yaitu yeri inflamasi pada lokasi penusukan, bekuan darah karena tertekuknya kateter, perdarahan ekimosis bila jarum lepas dan tromboplebitis. Sedangkan pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop. sphygmomanometer  tersusun  atas manset yang dapat dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan ringga dalam manset.
2.             Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Darah
Tekanan darah manusia tidak konstan, namun dipengaruhi banyak faktor secara kontinu sepanjang hari. Fakto-faktor yang mempengaruhi tekanan adarah menurut Perry & Potter yaitu :
1)            Usia
Tekanan darah akan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Hal tersebut berhubungan dengan berukuran elastisitas pembuluh darah arteri. Dinding arteri akan semakin kaku, sehingga pertahanan pada arteri akan semakin besar dan meningkatkan tekanan darah. Kemampuan jantung memompa darah keseluruh tubuh menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volume kehilangan elastisitas pembuluh darah karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigen.

2)            Stress
Stress akan merangsang saraf simpatik dalam tubuh yang mengakibatkan  meningkatnya frekuensi darah.

3)            Jenis Kelamin
Secara klinis tidak ada perbedaan yang signifikan dari tekanan darah yang terdapat pada laki-laki dan tekanan darah yang ada perempuan. Pada masa pubertas, laki-laki cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan darah perempuan. Pada wanita setelah menopause cenderung memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dari pada laku-laki pada usia tersebut.

3.             Klasifikasi Tekanan Darah

Klasifikasi tekanan darah untuk orang dewasa
Kategori
diastolic, mmHg
Hypotensi
< 90
atau < 60   
Normal
 90 – 119
Dan 60 – 79   
Prahipertensi
120 – 139
atau 80 – 89
Tahap 1 hipertensi
140 – 159
Atau  90 – 99
Tahap 2 hipertensi
≥ 160
or ≥ 100 
Tabel diatas menunjukan klasifikasi tekanan darah yang berlaku bagi orang dewasa berusia >18 tahun.

Kategori tekanan darah sistole dan diastole
-                Normal : 120 mmHg – 130 mmHg
                85 mmHg – 95 mmHg
Untuk lansia tekanan diastole 140 mmHg masih  dianggap normal.
-                Tingkat Hipertensi pada manusia
Ø   Stadium 1 (Hipertensi ringan) : 90-99 mmHg dan 140-159 mmHg
Ø   Stadium 2 (Hipertensi sedang) : 100-109 mmHg dan 160-179 mmHg
Ø   Stadium 3 (Hipertensi berat) :  110-119 mmHg dan 180-209 mmHg
Ø   Stadium 4 (Hipertensi maligna)  : >120 mmHg atau >210 mmHg
Klasifikasi hipertensi menurut WHO berdasarkan diastilik,yaitu:
·               Hipertensi derajat I : Jika tekanan diastoliknya 95-109 mmHg
·               Hipertensi derajat II : Jika tekanan diastoliknya 110-119 mmHg
·               Hipertensi derajat III : Jika tekanan diastolic >120 mmHg


4.             Mengukur Tekanan Darah
Mengukur tekanan darah dapat dilakukan dengan menggunakan sfigmanometer dan stetoskop yang dilakukan pada arteri brikialis yang diletakan disiku. Bunyi detak jantung dapat di dengar pada arteri briakialis, tempat bunyi pertama sebagai tekanan sistole dan diastole pada darah.

C.            KONSEP DASAR HIPERTENSI
1.             Pengertian Hipertensi
        Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yangdibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Berdasarkan JNC VII seorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan diastolik > 90 mmHg. Menurut Rohaendi (2008), Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.

2.             Etiologi Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Pada kebanyakan pasien, etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (hipertensi essensial atau hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyaipenyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.
 Menurut Sutanto (2009), penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan – perubahan pada :
1)            Elastisitas dinding aorta menurun;
2)            Katub jantung menebal dan menjadi kaku;
3)            Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya;
4)            Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi;
5)            Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.


3.             Klasifikasi Hipertensi
Menurut Shep (2005), Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya terbagi menjadi dua, yaitu :
a.       Hipertensi primer
Hipertensi primer disebut juga hipertensi esensial atau idiopatik adalah suatu peningkatan persisten tekanan arteri yang dihasilkan oleh ketidakteraturan mekanisme kontrol homeostatik normal. Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya dan mencakup ± 90 % dari kasus hipertensi.

b.      Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hipertensi persisten akibat kelainan dasar kedua selain hipertensi esensial. Hipertensi ini penyebabnya diketahui sebagai akibat dari penyakit lain dan menyangkut ± 10 % dari kasus hipertensi.


4.              Gejala Klinis Hipertensi
Gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
a.             Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

b.             Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.
              

5.             Faktor-Faktor Penyebab Hipertensi
a.       Faktor yang tidak dapat diubah
Faktor-faktor yang tidak dapat diubah, yaitu:
1)      Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi. Individu dengan orang tua yang menderita hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi (Anggraini, Waren, Situmorang, Asputra, & Siahaan, 2003).

2)      Faktor jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria dan wanita sama, akan tetapi wanita pramenopause (sebelum menopause) prevalensinya lebih terlindung daripada pria pada usia yang sama. Wanita yang belum menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) yang  merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses terosklerosis yang dapat menyebabkan hipertensi (Price & Wilson, 2006).
Pada premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan.
Hipertensi lebih banyak terjadi pada pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah menopause (Marliani, 2007)

3)      Faktor usia
Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitas atau kelenturan serta tekanan darah meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Peningkatan kasus hipertensi akan berkembang pada umur lima puluhan dan enampuluhan. Dengan bertambahnya umur, dapat meningkatkan risiko hipertensi.

b.      Faktor yang dapat diubah
1)     Obesitas
Pada usia pertengahan ( + 50 tahun ) dan dewasa lanjut asupan kalori sehingga mengimbangi penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok lansia karena dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan pembuluh darah, hipertensi (Rohendi, 2008).
2)     Kurang olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular, karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi). Kurangnya aktivitas fisik menaikan risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
3)     Kebiasaan Merokok
Menurut Bowman (2007) dalam Anggraeni (2009) dalam Resiko merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap perhari, bukan pada lama merokok. Seseorang yang merokok lebih dari satu pak rokok perhari menjadi dua kali lebih rentan daripada mereka yang tidak merokok yang diduga penyebabnya adalah pengaruh nikotin terhadap pelepasan katekolamin oleh sistem saraf otonom.
4)     Mengkonsumsi garam berlebih
WHO  merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. (Wolff, 2008).
5)     Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol berlebihan termasuk salah satu  faktor resiko hipertensi (Marliani, 2007).
6)     Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung 75 – 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.
7)     Stress
Hubungan antara stress dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi.


D.           KONSEP SENAM

1.             Pengertian Senam
Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam bahasa Inggris terdapat istilah exercise atau aerobic yang merupakan suatu aktifitas fisik yang dapat memacu jantung dan peredaran darah serta pernafasan yang dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga menghasilkan perbaikan dan manfaat kepada tubuh. Senam berasal dari bahasa yunani yaitu gymnastic (gymnos) yang berarti telanjang, dimana pada zaman tersebut orang yang melakukan senam harus telanjang, dengan maksud agar keleluasaan gerak dan pertumbuhan badan yang dilatih dapat terpantau (Suroto,2004).
Senam merupakan bentuk latihan-latihan tubuh dan anggota tubuh untuk mendapatkan kekuatan otot, kelentukan persendian, kelincahan gerak, keseimbangan gerak, daya tahan, kesegaran jasmani dan stamina. Dalam latihan senam semua anggota tubuh (otot-otot) mendapat suatu perlakuan. Otot-otot tersebut adalah gross muscle (otot untuk melakukan tugas berat) dan fine muscle  (otot untuk melakukan tugas ringan).
Senam lansia yang dibuat oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (MENPORA) merupakan upaya peningkatan kesegaran jasmani kelompok lansia yang jumlahnya semakin bertambah. Senam lansia sekarang sudah diberdayakan diberbagai tempat seperti di panti wredha, posyandu, klinik kesehatan, dan puskesmas. (Suroto, 2004).
Senam lansia adalah olahraga ringan dan mudah dilakukan, tidak memberatkan yang diterapkan pada lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat, memdorong jantung bekerja optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Jadi senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang dilakukan dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut.


2.             Manfaat Senam
Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat bermanfaat untuk menghambat proses degeneratif/penuaan. Senam ini sangat dianjurkan untuk mereka yang memasuki usia pralansia (45 thn) dan usia lansia (65 thn ke atas).
Orang melakukan senam secara teratur akan mendapatkan kesegaran jasmani yang baik yang terdiri dari unsur kekuatan otot, kelentukan persendian, kelincahan gerak, keluwesan, cardiovascular fitness dan neuromuscular fitness.
Apabila orang melakukan senam, peredarah darah akan lancar dan meningkatkan jumlah volume darah. Selain itu 20% darah terdapat di otak, sehingga akan terjadi proses indorfin hingga terbentuk hormon norepinefrin yang dapat menimbulkan rasa gembira, rasa sakit hilang, adiksi (kecanduan gerak) dan menghilangkan depresi. Dengan mengikuti senam lansia efek minimalnya adalah lansia merasa berbahagia, senantiasa bergembira, bisa tidur lebih nyenyak, pikiran tetap segar.
Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Tingkat kebugaran dievaluasi dengan mengawasi kecepatan denyut jantung waktu istirahat yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi supaya lebih bugar, kecepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus menurun.
Manfaat senam lainnya yaitu terjadi keseimbangan antara osteoblast dan osteoclast. Apabila senam terhenti maka pembentukan osteoblast berkurang sehingga pembentukan tulang berkurang dan dapat berakibat pada pengeroposan tulang. Senam yang diiringi dengan latihan stretching dapat memberi efek otot yang tetap kenyal karena ditengah-tengah serabut otot ada impuls saraf yang dinamakan muscle spindle, bila otot diulur (recking) maka muscle spindle akan bertahan atau mengatur sehingga terjadi tarik-menarik, akibatnya otot menjadi kenyal. Orang yang melakukan stretching akan menambah cairan sinoval sehingga persendian akan licin dan mencegah cedera (Suroto, 2004).
Olahraga yang bersifat aerobik seperti senam merupakan usaha-usaha yang akan memberikan perbaikan pada fisik atau psikologis. Faktor fisiologi dan metabolic yang dikalkulasi termasuk penambahan sel-sel darah merah dan enzim fosforilase (proses masuknya gugus fosfat kedalam senyawa organik), bertambahnya aliran darah sewaktu latihan, bertambahnya sel-sel otot yang mengandung mioglobin dan mitokondria serta meningkatnya enzim-enzim untuk proses oksigenasi jaringan (Kusmana, 2006). Sedangkan menurut Depkes (2003) olahraga dapat memberi beberapa manfaat, yaitu: meningkatkan peredaran darah, menambah kekuatan otot, dan merangsang pernafasan dalam. Selain itu dengan olahraga dapat membantu pencernaan, menolong ginjal, membantu kelancaran pembuangan bahan sisa, meningkatkan fungsi jaringan, menjernihkan dan melenturkan kulit, merangsang kesegaran mental, membantu mempertahankan berat badan, memberikan tidur nyenyak, memberikan kesegaran jasmani.


3.              Gerakan Senam Lansia

Tahapan latihan kebugaran jasmani adalah rangkaian proses dalam setiap latihan, meliputi pemanasan, kondisioning (inti), dan penenangan (pendinginan) (Sumintarsih, 2006).
a.            Pemanasan
Pemanasan dilakukan sebelum latihan. Pemanasan bertujuan menyiapkan fungsi organ tubuh agar mampu menerima pembebanan yang lebih berat pada saat latihan sebenarnya. Penanda bahwa tubuh siap menerima pembebanan antara lain detak jantung telah mencapai 60% detak jantung maksimal, suhu tubuh naik 1ºC - 2ºC dan badan berkeringat. Pemanasan yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cidera atau kelelahan.

b.             Kondisioning
Setelah pemansan cukup dilanjutkan tahap kondisioning atau gerakan inti yakni melakukan berbagai rangkaian gerak dengan model latihan yang sesuai dengan tujuan program latihan.

c.          Penenangan
Penenangan merupakan periode yang sangat penting dan esensial. Tahap ini bertujuan mengembalikan kodisi tubuh seperti sebelum berlatih dengan melakukan serangkaian gerakan berupa stretching. Tahapan ini ditandai dengan menurunnya frekuensi detak jantung, menurunnya suhu tubuh, dan semakin berkurangnya keringat. Tahap ini juga bertujuan mengembalikan darah ke jantung untuk reoksigenasi sehingga mencegah genangan darah diotot kaki dan tangan.



BAB III
PENUTUP
A.            SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan latihan olahraga secara teratur dapat meningkatkan fungsi tubuh terutama fungsi jantung. Jantung yang merupakan salah satu organ vital tubuh sudah seharusnya dijaga kesehatannya. Kerusakan pada jantung akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Sebagai contoh penyakit hipertensi, berawal dari hipertensi jika tidak tertangani secara baik akan berakibat fatal salah satunya dapat menyebabkan penyakit stroke yang dapat berakhir dengan kematian. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan jantung adalah dengan olahraga yang teratur. Olahraga ringan yang mudah dilakukan adalah senam. Senam memiliki banyak manfaat diantaranya adalah melancarkan peredaran darah dan meningkatkan jumlah volume darah. Sehingga dengan melakukan senam secara teratur dapat meminimalkan terjadinya penyakit jantung terutama hipertensi pada oang lansia.

B.            SARAN
Untuk mencapai tekanan darah normal, selain melakukan olahraga senam secara rutin, beberapa hal di bawah ini juga perlu mendapat perhatian, yaitu:
·      Jika kelebihan bobot badan, kurangilah
·      Kurangi asupan natrium (sodium)
·      Usahakan cukup asupan kalium (potasium)
·      Batasi konsumsi alkohol




DAFTAR PUSTAKA

Aji Subekti, Insan. 2012. Olahraga Bagi Usia Lanjut.
http://insanajisubekti.wordpress.com/2012/04/17/olahraga-bagi-usia-lanjut/ ,
diakses 26 November 2013

Arumdita. 2010. Klasifikasi Tekanan Darah.
http://arumdita.blogspot.com/2010/01/klasifikasi-tekanan-darah.html ,
diakses 26 November 2013.
Departemen Kesehatan. 2012. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi. Buku Saku.
http://www.binfar.depkes.go.id/bmsimages/1361338449.pdf ,
diakses 26 November 2013.
Fhajar Pranama, Vendyik. 2012. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Tekanan Darah Pada Lansia Hipertensi Di Desa Pomahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, Karya Tulis, Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
http://lib.umpo.ac.id/gdl/files/disk1/5/jkptumpo-gdl-vendyikfha-233-1-abstrak-i.pdf ,
diakses 21 November 2013.
Kadulli, Arnold. 2012. Proposal Hipertensi Pada Lansia.
http://arnoldkadulli12081991.blogspot.com/2012/11/proposal-hipertensi-pada-lansia.html ,
diakses pada 26 November 2013.

Karya, Teguh. 2012. Olahraga Pada Lansia Pengidap Hipertensi, http://teguhkarya277.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo_31.htmldiakses 26 November 2013.

Rachman , Fauzia. 2011. Berbagai Faktor Yang Berhubungan Dengan  Kejadian Hipertensi Pada Lansia (Studi Kasus di Rumah Sakit Dr.Kariadi            Semarang), Karya Tulis Ilmiah, Universitas     Diponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/33002/1/Fauzia.pdf ,   diakses 24 November 2013.

Setiawan, Yahmin. 2012. Olahraga Untuk Lansia. http://www.lkc.or.id/2012/05/22/olahraga-untuk-lansia/, diakses 24 November 2013.

---.---.  ”Hubungan Antara Keaktifan Mengikuti Senam Lansia dengan Keseimbangan Tubuh pada Lansia di Wilayah Koripan Kecamatan     Susukan Semarang”,     Karya Tulis, ---
             
http://etd.eprints.ums.ac.id/14787/3/BAB_SATU.pdf ,
            diakses 21 November 2013.

2 komentar:

  1. Artikelnya mudah untuk dipahami dan semoga bermanfaat untuk kawan-kawan...
    dan kalau ada info tren baju senam body image di sana seperti apa ya...
    mohon infonya ya

    BalasHapus
  2. refrensinya kurang lengkap tentang senam lansia tolong dilengkapi,makasih

    BalasHapus